Black Hole Pertama Kali dalam Sejarah Tertangkap Kamera, Apa Dampak Penelitian untuk Indonesia?

Black Hole atau lubang hitam untuk pertama kali dalam sejara tertangkap kamera, apa dampaknya untuk Indonesia? Sepanjang sejarah dunia astronomi, black hole atau lubang hitam menjadi hal yang sangat misterius. Untuk pertama kalinya dalam sejarah ilmu pengetahuan, para ilmuwan akhirnya berhasil mengungkap penampakan lubang hitam.

Berangkat dari hal ini, Dosen Fisika Teori Institut Teknologi Sepuluh Nopember ( ITS) Surabaya, Bintoro Anang Subagyo memberi tanggapan mengenai dampak penemuan tersebut terhadap perkembangan sains dan teknologi, khususnya di Indonesia. Dilansir dari laman ITS (16/4/2019), Bintoro ini menyebutkan keberhasilan pengamatan black hole merupakan salah satu pembuktian teori relativitas umum Einstein yang paling ekstrim. Selain itu, Bintoro menganggap penemuan ini merupakan pembenaran mengenai keberadaan supermassive black hole dipusat galaksi yang telah lama diyakini para ilmuwan.

Melalui laman resmi ITS Bintoro memaparkan selama ini penggambaran black hole hanya didasarkan pada simpulan terkait aktivitas benda benda disekitar black hole. Sementara citra black hole yang berhasil didapatkan baru baru ini, menurut Bintoro, cukup sukses memperlihatkan bagian bagian black hole seperti yang telah disimulasikan. “Meskipun resolusinya rendah, hal ini tetap saja luar biasa,” pujinya.

Gambar ini sendiri merupakan black hole yang terletak di galaksi Messier 87. Area cerah pada gambar merupakan material pada cakram akresi yang terpanaskan saat masuk ke dalam black hole, sementara bayangan gelap di tengah adalah lubang hitam itu sendiri. Para astronom merilis gambar pertama dari lubang hitam ini setelah mengamatinya selama dua tahun terakhir melalui delapan teleskop radio di empat benua, yang tergabung dalam jaringan Event Horizon Telescope (EHT).

Setiap teleskop mengumpulkan sejumlah besar informasi tersendiri Adapun total data yang terlibat dalam proses pengambilan gambar ini mencapai lebih dari lima petabyte (1 petabyte = 1.000 terabyte). Jumlah yang cukup untuk menyimpan file MP3 dengan durasi 5.000 tahun.

“Proyek ini tidak hanya melibatkan peran fisikawan sebagai pengembang teori, tetapi juga kerjasama engineer dari berbagai bidang keilmuan,” sambung Pembina Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Astronomi ITS ini. Adapun beberapa bidang yang menurut Bintoro pasti terlibat diantaranya adalah informatika dan teknik komputer. Bintoro juga menyayangkan bahwa negara berkembang seperti Indonesia masih sukar untuk andil dalam riset elit semacam ini

“Ini mungkin menjadi sisi buruk dari penemuan black hole, kita (Indonesia) hanya menjadi penonton,” tuturnya.

Avatar

Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil. Apapun yang orang lain katakan, hal yang terpenting dalam hidup adalah bersenang-senang.

    Leave Your Comment

    Your email address will not be published.*