Menperin Ungkap Soal Tax Holiday ”Agresif” kepada Pengusaha Jepang

Indonesia saat ini berbeda dengan Indonesia 10 tahun yang lalu. Dulu bergantung pada ekspor komoditas. Tetapi dalam 5 tahun terakhir, Indonesia lebih fokus pada ekspor manufaktur bernilai tambah tinggi. Demikian hal ini disampaikanMenteri Perindustrian Airlangga Hartarto di forum Future of Asia Nikkei Kamis ini (30/5/2019). "Bahkan ada kebijakan Tax Holiday yang agresif, yang akan membebaskan perusahaan mana pun yang berinvestasi dari USD 30 juta hingga USD 2 miliar dalam jangka waktu 5 20 tahun. Ini hanya satu contoh. Di tahun tahun mendatang, akan ada lebih banyak inisiatif kebijakan fiskal, yang tentunya kami harapkan akan mendorong pertumbuhan kami ke tingkat berikutnya," katanya.

Menurut Menteri Airlangga, Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang luar biasa, rata rata di atas 5 persen setiap tahun. "Jika melihat ke seluruh dunia, ini bukan prestasi kecil dan jika bertanya tanya, kebanyakan orang akan mengatakan bahwa potensi pertumbuhan masih jauh lebih tinggi lagi. Ekonomi kita besar dan kita sekarang berada di jalur untuk memenuhi takdir kita sebagai salah satu ekonomi paling besar di dunia." Sebagai salah satu tujuan investasi dunia, tambahnya, Indonesia semakin dekat untuk menjadi pusat manufaktur Asean.

"Kami juga akan menjadi salah satu basis produksi kawasan untuk produsen global. Untuk ini, kami menyadari bahwa kami perlu menciptakan iklim investasi yang positif dan insentif yang kuat untuk bisnis. Sejauh ini, langkah langkah yang kami ambil belum mengecewakan. Pada kuartal pertama 2019, industri manufaktur kami memberikan kontribusi 22,7 persen terhadap total investasi hingga saat ini, jumlahnya sekarang sekitar USD 134,9 miliar." Keyakinan Menteri Airlangga, bahwa Indonesia akan menjadi pusat manufaktur ASEAN yang kuat. "Ini didasarkan pada kenyataan bahwa banyak sektor industri kami memiliki lapisan dalam dan struktur penghubung di negara ini, mengalir dari hulu ke hilir, seperti: otomotif, tekstil dan pakaian, makanan industri minuman, logam dasar, dan bahan kimia."

"Jika kita melihat lebih dekat, khususnya industri otomotif, kita dapat melihat bahwa Indonesia memiliki potensi yang sangat besar. Saat ini, ada empat perusahaan otomotif besar yang telah menjadikan Indonesia pemain penting dalam rantai pasokan global. Produksi kami tahun lalu adalah 1,34 juta unit dengan nilai total USD 13,8 miliar." Selain kesuksesan ini, ungkapnya lagi, Indonesia juga berencana untuk menjadi produsen kendaraan rendah emisi terbesar di kawasan ini. "Dalam 10 tahun ke depan, kami akan mengembangkan berbagai jenis, seperti BEV, PHEV, Fuel Cell atau Mobil Hybrid. Untuk ini, beberapa produsen baterai telah berkomitmen untuk berinvestasi dan pemerintah sekarang menyiapkan peraturan yang efektif serta peraturan yang sesuai untuk mendukung industri mobil listrik. Kami akan menawarkan pajak yang dapat dikurangkan hingga 200 persen untuk penelitian dan pengembangan. Selain itu, kami berencana untuk melakukan lebih banyak lagi mengikuti peluang yang akan datang di tahun tahun mendatang."

Mengungkapkan data terbaru, Menteri Airlangga menyebutkan bahwa dari data terbaru diketahui bahwa industri manufaktur Indonesia memberikan kontribusi yang signifikan terhadap PDB. Jumlahnya lebih dari 20 persen pada kuartal pertama tahun ini. "Berdasarkan pencapaian ini, Bank Dunia baru baru ini menjelaskan bahwa Indonesia berada di peringkat kelima di antara negara negara G20, yang hampir sama dengan Jerman, yang kontribusi sektor manufakturnya terhadap PDB adalah sekitar 20,6 persen. Kontribusi rata rata sektor manufaktur terhadap ekonomi di negara negara industri adalah sekitar 17 persen."

Avatar

Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil. Apapun yang orang lain katakan, hal yang terpenting dalam hidup adalah bersenang-senang.

    Leave Your Comment

    Your email address will not be published.*