Pelepah Hingga Bungkil Sawit Bisa Jadi Pakan buat Tingkatkan Bobot Sapi

Mewujudkan harapan pemerintah yakni swasembada daging sapi, tentunya membutuhan waktu yang cukup lama dan diprediksi terwujud pada 2026 mendatang. Swasembada untuk ternak satu ini bisa tercapai jika proses pembibitan sapi unggulan berlangsung secara konsisten. Namun, hingga kini pemerintah masih terus melakukan impor dalam memenuhi kebutuhan terkait pasokan daging sapi.

Kendati demikian, pemberian pakan ternak yang berkualitas pun terus menjadi fokus pemerintah dalam mencapai swasembada sapi. Dalam upaya mendorong peningkatan perekonomian sekaligus pemenuhan kebutuhan masyarakat terkait produk ternak, dibutuhkan pula penerapan inovasi dan teknologi. Hal ini dilakukan pula oleh lembaga riset pemerintah, yakni Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang tengah melaksanakan pilot project dengan menggandeng Pemerintah Kabupaten Pelalawan, Riau, untuk mengintegrasikan ternak sapi dan lahan sawit.

Dalam melaksanakan proyek percontohan ini, seratusan sapi pun digunakan sebagai uji coba. Pengintegrasian sapi sawit ini pun berfokus pada penggunaan produk samping atau limbah sawit sebagai pakan ternak. "Sebetulnya pilot project itu kan nggak besar ya, paling pakainya cuma ratusan aja ya 100 sampai 150 sapi. Tapi percontohannya adalah kita manfaatkan sisa sisa, ya bisa disebut limbah lah ya," ujar Soni.

Ia menjelaskan bahwa biasanya memang limbah sawit seperti pelepah, daun hingga batangnya hanya digunakan sebagai bahan pembuatan pupuk. "Nah itu pelepah pelepah daun daun sawit yang dipotong itu kan daunnya banyak ya. Itu kan (biasanya) jadi sampah yang nantinya kena hujan dan lain lain kemudian jadi pupuk," kata Soni. Namun dalam pilot project sistem integrasi ini, pihaknya mencoba menerapkan teknologi yang akan memanfaatkan limbah tersebut sebagai pakan ternak sapi.

"Nah (daun yang jatuh) ini kita bisa buat pakan itu dari limbah limbah yang tadi itu dari limbah pelepahnya, ada batang sawit yang sudah nggak terpakai itu bisa kita pakai," jelas Soni. Selain itu, teknologi rekayasa pangan ini juga turut memanfaatkan bungkil sebagai bahan lainnya dalam pakan ternak sapi. Sehingga tidak ada produk limbah sawit yang terbuang.

Perlu diketahui, bungkil sawit merupakan sisa ampas kelapa parut yang telah habis kadar airnya karena proses pemanasan. "Kemudian juga ada bungkil bungkil yang nggak terpakai itu kita bisa manfaatkan juga, nah itu kita buat pakannya," papar Soni. Sistem ini menurutnya bisa menjadi solusi dalam menekan impor sapi yang disebabkan kurangnya pakan ternak yang berkualitas, "Sekarang salah satu masalah di peternakan sapi itu kan masalah pakan, kita kekurangan pakan juga tepatnya,".

Komposisi dalam pemberian pakan ternak dari limbah sawit itu pun, kata Soni, telah melewati proses penelitian yang dilakukan oleh lembaga yang berfokus pada bidang kaji terap teknologi tersebut. "Nah kita BPPT meneliti membuat pakan dari bahan bahan hasil samping atau limbah, kita buat pakan ternaknya dengan teknologi dan penelitian kita, komposisinya dari kitalah," tutur Soni. Soni menyebut bahwa sistem pengintegrasian ini mampu meningkatkan bobot sapi.

Karena sapi yang mengkonsumsi pakan ternak hasil rekayasa teknologi pangan, diyakini akan meningkat bobot tubuhnya melebihi sapi yang hanya diberi pakan ternak biasa. "Kalau (biasanya) sapi itu makan rumput biasa, (berat) kenaikannya hanya 0,4 kg per hari dengan pakan yang biasa. Tapi dengan pakan yang sudah kita buat tadi itu, bisa jadi 0,8 kg per hari kenaikan beratnya," tegas Soni. Pengintegrasian sapi sawit ini menggunakan sapi lokal dan ujicobanya pun disebut telah terbukti, "ini kita pakai sapi Bali dan sudah terbukti,".

Soni pun berharap agar proyek percontohan ini kedepannya mampu mendorong para peternak di wilayah Pelalawan agar mereka bisa menjadi peternak yang mandiri. Sistem ini juga diharapkan menjadi percontohan untuk diterapkan di daerah lainnya. Diharapkan pula, pemerintah bersama industri swasta dan kelompok peternak mampu bersinergi dalam mensinkronisasikan program integrasi sapi sawit melalui perumusan kajian yang tepat.

Integrasi sapi sawit ini diprediksi mampu memangkas biaya pakan ternak hingga mencapai 30 persen. Angka biaya pakan itu bisa ditekan karena program ini menggunakan limbah sawit yang berasal dari bagian pelepah dan batang pohonnya.

Avatar

Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil. Apapun yang orang lain katakan, hal yang terpenting dalam hidup adalah bersenang-senang.

    Leave Your Comment

    Your email address will not be published.*