Tanggapan Tokoh soal Anggota Dewan Pengawas KPK dari Saut Situmorang hingga Syafii Maarif POPULER

Menunjuk Dewan Pengawas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yang nantinya akan mengawasi kinerja dari lembaga antirasuah itu. Dewan pengawas akan dilantik bersamaan dengan pelantikan pimpinan KPK periode 2019 2023, pada 20 Desember 2019 mendatang. Dewan pengawas berwenang memberi atau tidak memberi izin penyadapan, penggeledahan, dan penyitaan oleh KPK.

Dewan pengawas juga bisa mengevaluasi kinerja pimpinan KPK setiap satu tahun. Jokowi mengungkapkan, nantinya akan berisi lima nama anggota. Namun, saat ditemui wartawan di Istana Negara, Jumat (13/12/2019), Presiden Jokowi mengaku saat ini susunan lima anggota Dewan Pengawas KPK belum final.

"Baru proses finalisasi, melihat satu persatu track record nya seperti apa, integritas, semua," ujar Jokowi, dikutip dari YouTube . Jokowi mengatakan, pihaknya masih ingin mengecek kembali, agar tidak terjadi kekeliruan. Sehingga masyarakat akan puas atas penetapan anggota itu nantinya.

"Kita mau cek agar tidak keliru, kemudian masyarakat ada yang tidak puas, kemudian malah dibully," jelas Jokowi. Menanggapi pembentukan Dewan Pengawas KPK oleh Presiden Jokowi ini, sebelumnya mendapat tanggapan yang beragam dari sejumlah tokoh. Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Arsul Sani tidak ingin pemilihan oleh ini, menimbulkan kesan politisasi kepada KPK.

Meskipun pemilihan adalah hak prerogatif presiden, Arsul Sani berharap anggota bukan sosok yang masih aktif dalam partai politik. Alasannya, ia tidak ingin timbul kesan ada konflik kepentingan dari ini. "Nanti tidak terkesan conflict of interest , bahkan ada kesan politisasi di KPK," ujar Arsul Sani di Kompleks DPR, Jumat (13/12/2019).

"Kecuali orang itu politisi dan sudah menjadi pejabat publik," lanjutnya. Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang menyebut tidak bisa digunakan untuk melakukan check and balance KPK. "Organisasi apapun di negeri ini harus di check and balance. How do check and balance, itu yang paling penting," ujar Saut Situmorang.

Menurutnya, tugas Dewan Pengawas (Dewas) berbeda dengan maksud dari check and balance. Ia menyebut, jika masuk dalam proses KPK, maka ia mengawasi lembaganya sendiri. "Dewas ini dipakai untuk melakukan check and balance terhadap KPK itu kontraproduktif, dengan maksud check and balance itu sendiri," katanya.

"Anda tidak boleh masuk bagian dalam proses, kamu ngawasin tapi bagian dari proses, kamu mengawasi dirimu sendiri," jelas Saut. "Itu teori organisasi pakai apa itu?" lanjutnya. Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Asfinawati menyebut KPK secara lembaga dikendalikan oleh , terkait pemilihan dari .

Ia menyebut, pemilihan antara Ketua KPK dengan dipilih dengan cara yang berbeda. "Ketua KPK dipilih melalui seleksi yang ketat, sedangkan dewan pengawas langsung ditunjuk presiden, dan tidak melalui DPR," ungkap Asfinawati, Kamis (7/11/2019). "Artinya, lebih sulit pimpinan KPK, tapi wewenangnya lebih gede di dewan pengawas," jelasnya.

Sehingga, Asfinawati mengatakan, pembentukan Dewan Pengawas KPK memperlihatkan secara lembaga, bahwa Presiden mengendalikan KPK. "Sebetulnya KPK dikendalikan oleh presiden secara kelembagaan, karena dia dipilih langsung oleh Presiden," ungkapnya. Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Buya Syafii Maarif meminta masyarakat tidak memandang negatif pemilihan .

Menurutnya, belum tentu posisi tersebut akan melemahkan posisi dari KPK. "Kalau niatnya itu agar korupsi tetap merajalela, itu pasti melawan pancasila," "Tapi kalau sekedar mengawasi beberapa kesalahan, kelemahan KPK, saya kira tidak masalah," ujar Buya Syafii Maarif di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/12/2019).

Wakil Direktur Visi Integritas, Emerson Yuntho menyebut pembentukan akan menghambat proses hukum dari KPK. Emerson mengaku beberapa pihak menolak dari pembentukan tersebut. Menurutnya, penolakan tersebut karena KPK ada sebuah lembaga independen.

"Sebetulnya kita sendiri sejak awal menolak konsep soal dewan pengawas, ini lembaga independen," ujar Emerson Yuntho di Studio Menara Kompas, Sabtu (14/12/2019). "Kalau kita lihat tugas atau kewenangan dari dewan pengawas, dia memberikan izin atau tidak memberikan izin penyadapan, penyitaan, dan penggeledahan." "Ini akan mengganggu proses hukum yang sedang dilakukan oleh KPK," jelas Emerson.

Emerson juga menyebut, ada kemungkinan kasus yang sedang ditangani oleh KPK bisa bocor kepada publik. "Bukan tidak mungkin di beberapa kasus terjadi pembocoran kasus yang sedang dilakukan KPK," katanya. Ditanya terkait pembentukan oleh apakah bisa memperkuat lembaga KPK, Emerson menolaknya.

Menurutnya, akan memperpanjang proses birokrasi dari KPK. "Memperkuat gimana, itu menambah panjang birokrasi dalam proses penyadapan misalnya," ungkap Emerson.

Avatar

Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil. Apapun yang orang lain katakan, hal yang terpenting dalam hidup adalah bersenang-senang.

    Leave Your Comment

    Your email address will not be published.*